The Eight Kings: Dragon Heist (2026) berlatar pada masa penuh kekacauan di era Republik Tiongkok. Cheng Yang, seorang ahli Qianmen, mengetahui bahwa kekasihnya, Ma Zhenzhen, telah meninggal dan Pedang Pusaka Sembilan Naga kini berada di tangan Panglima Zhang.
Karena tidak mungkin merebut pedang tersebut dengan kekuatan, Cheng Yang mengumpulkan kembali delapan ahli Qianmen. Mereka kemudian menggunakan berbagai tipu muslihat yang tampak seperti kejadian supernatural, mulai dari pertunjukan hantu, telapak tangan berdarah, patung Buddha yang menangis darah, hingga fenomena aneh pada beras, untuk membuat Panglima Zhang menyerahkan pedang itu sendiri.
Namun setelah mendapatkan pedang, Cheng Yang menemukan bahwa kematian Zhenzhen menyimpan rahasia besar. Jejaknya membawa Cheng Yang kepada gurunya, Ma Chuan, seorang penguasa kejam bernama Qin Wuye, serta akta kepemilikan Akademi Xilin yang ternyata berkaitan dengan sebuah konspirasi yang lebih besar.
Delapan ahli Qianmen kemudian kembali menyusun sebuah jebakan di makam kuno untuk mendapatkan kembali akta tersebut sekaligus menyelamatkan harta pusaka nasional. Di tengah berbagai tipu daya dan bahaya, mereka akhirnya memahami bahwa kemampuan Qianmen bukan sekadar untuk mencuri, tetapi untuk merebut kembali sesuatu dari tangan orang yang tidak berhak dan mengembalikannya kepada pemilik yang benar.
The Eight Kings: Dragon Heist memadukan aksi, petualangan, misteri, tipu daya, harta karun, dan konspirasi dalam kisah pencurian berbahaya berlatar era Republik Tiongkok.